Hari ASI Sedunia Tetap Menyusui Meski Positif Covid-19

Katalistiwa. Hari itu pikiran Rena Mardita kalut  ketika hasil tes usap antigen suaminya positif. Saat itu juga dia menghubungi petugas uji usap PCR untuk datang ke rumahnya. Mereka memeriksa 10 orang yang ada di rumah itu. Ia, suami, enam anak, dan ibu dan mertuanya. Dari hasil pemeriksaan, hanya dia dan suami yang positif Covid-19.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

KAMI isoman di rumah. Pertama-tama saya bawa suami rontgen dulu buat memastikan paru-parunya bermasalah atau tidak karena ada batuk-batuk kecil. Buat deteksi pneumonia. Sekalian minta obat tambahan jika diperlukan. Tapi alhamdulillah hasilnya baik jadi hanya diberi vitamin D sama dokter,” cerita yang dikutip dari PontianakPost.

Aktivitas mengurus anak dan rumah masih lancar. Bahkan Rena tetap menyusui bayinya yang berusia 2,5 tahun.

PENYINTAS COVID: Rena bersama dua buah hatinya menjadi penyintas Covid-19 sembari menyusui buah hatinya. ISTIMEWA

“Karena saya OTG (orang tanpa gejala), maka dari awal tidak ada gejala. Hanya saya full pake masker 24 jam, termasuk saat tidur,” ungkapnya.

Sejak pandemi, Rena sudah membuat keputusan tidak akan menyapih atau berhenti menyusui bayinya.

Menurutnya, banyak penelitian menyebutkan bahwa Covid tidak bisa menular lewat ASI (air susu ibu). Justru, dia yakin, bayi bisa dapat antibodi dari meminum ASI.

Meski demikian, Rena tetap menyadari potensi penularan Covid-19 kepada bayinya. Sebab itu, dia menjalankan protokol ketat. Seperti memakai masker dengan benar selama 24 jam, mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.

“Juga makan yang bergizi, minum yang banyak, istirahat yang cukup, dan olahraga rutin supaya stamina terjaga,” ulasnya.

Rena optimistis bayinya lebih kuat, karena saat itu Rena sudah divaksin.  “Alhamdulillah, dengan protokol ketat, hingga hari ke-15 dari suami bergejala, bayi dan anak saya yang lain sehat,” ujarnya.

Beragam tantangan lain yang harus ia hadapi. Tantangan terberatnya, tidak bisa mencium buah hatinya. Ini sangat membuat perasaan sedih Rena. Meski serumah, harus membatasi kontak langsung dengan keluarganya.

Tinggal di rumah dua lantai, membantunya untuk isolasi mandiri. Ada dua kamar di lantai dua kediamannya. Satu digunakan untuk suaminya, dan satunya untuk dia dan bayinya. Sementara di lantai bawah, juga ada dua kamar untuk ibu dan anak-anaknya. Selama isolasi, mereka  keluar kamar hanya saat makan dan mandi.

“Tidak bisa jadi imam karena harus jaga jarak. Tidak bisa ikut halaqah Qur’an juga sama mereka. Tidur pakai masker juga berat di hari pertama, kedua. Kayak mau bengek. Setelah itu dah biasa,” papar dia menceritakan kesedihannya.

Menurut Rena, semua ini berawal dari Rabu, 14 Juli 2021. Sepulang dari kantor, suaminya mengaku tak enak badan. Punggungnya pegal dan tenggorokannya kering.

“(Selama) 15 tahun mengarungi bahtera rumah tangga, setahun sekali atau dua kali memang suami acapkali kena radang tenggorokan. Apalagi kalau kecapean dan makan atau minum yang dingin. Jadinya saya cek suhunya ternyata  memang agak naik, 37,2 derajat celsius. Alarm istri langsung on dan bergumam dalam hati, biasanya tidak pakai demam,” ceritanya.

Rena kemudian mengambil masker dan alat kerokan. Setiap suami tidak enak badan, lanjut Rena kerokan dan pijatan istri biasanya cukup meredakan. Mereka pun bermusyawarah. Di musim wabah seperti ini, demam tak bisa dianggap sepele.

“Saya minta suami isolasi mandiri di kamar sambil memantau perkembangan dua hari ke depan. Setelah makan siang dan minum paracetamol, suami pun istirahat,” ulasnya.

Besoknya suhu sang suami, menurut dia, masih berkisar di 37 derajat celsius. Rena pun menghubungi dokter umum untuk telemedicine. Dari anamnesis, tidak mengarah ke Covid-19. Suaminya pun mendapatkan obat radang.

Memahami kondisi suami, langkah pertama yang Rena lakukan yakni meminta suami isolasi mandiri di rumah. Meski, menurut dia, saat itu belum diketahui positif Covid-19. Kemudian diia memisahkan alat makan, lalu aktivitas mencuci perkakas atau pakaian suaminya di tempat yang berbeda dengan anggota keluarga lain.

Selalu memantau suhu, tensi, dan saturasi oksigen suaminya. Karena di rumahnya banyak botol, Rena menulis nama namanya di botol agar tidak tertukar dengan anak-anak. Ini mengantisipasi karena kemungkinan besar dia pun terpapar karena merawat suaminya.

“Makan dan minum terpisah dengan anak, usahakan outdoor. Jika memungkinkan, gunakan hepafilter di kamar pasien isolasi. Saat berjemur, jangan lupa pakai sunscreen,” sarannya

Hari ke-4 pada Sabtu, 17 Juli 2021 . Karena suaminya merasa sudah fit dan dokter juga mengatakan tak ada gejala mengarah ke Covid. Senin, ada rencananya suaminya ingin ke  kantor.

“Saya minta second opinion ke dua orang dokter sambil menjelaskan kondisi klinis dan pantauan suhu Abi (panggilan ke suaminya, Red). Dokter pertama bilang aman, tidak perlu swab. Dokter kedua bilang aman juga, tapi boleh swab untuk screening,” jelasnya.

Naluri istri yang memikirkan ibu dan mertua serta anak-anak dan juga staf di kantor, Rena mengharuskan agar suaminya swab PCR. “Hasilnya? positif. Laa hawla wala quwwata illa billaah. Tidak kebayang kalau suami tak swab. Gimana kalau lalai buka masker di ruangan karena merasa sendiri? Berapa banyak orang yang bisa terpapar? Saya pun ikut swab. Malamnya hasil keluar dan positif,” beritahunya.

CT suaminya cukup tinggi di 14 dengan load virus 1.3 juta, sedangkan Rena memiliki CT 32 load virus 79. “Besar kemungkinan efek dari awal dia langsung diisolasi dan saya pakai masker 24 jam. Jadi paparan virusnya minim,” ungkapnya.

Kini kondisi keduanya semakin membaik dan sudah melewati masa isolasi mandiri. Rontgen paru-paru suaminya juga menunjukkan hasil yang bagus.

Rencana selanjutnya, Rena dan keluarga tetap memakai masker di rumah sampai 14 Agustus, guna mengantisipasi jika ada gejala susulan.

“Semoga sih tidak. Harap maklum, anggota keluarga cukup ramai. Ada enam anak dan dua lansia di rumah. Mana kita tahu inkubasi virus kan, jadinya saya pikir lebih baik berjaga-jaga aja. Toh dua pekan bermasker seharian mampu saya lewati, insyaallah tambah dua pekan lagi tidak mengapa. Minta doanya agar Allah mudahkan,” katanya.

Selain itu, mereka juga memperketat prokes. Hasil evaluasi, kemungkinan besar mereka terpapar karena suaminya beberapa kali buka masker di ruangan kantornya saat sendiri.

“Jika buka pintu kurang dingin katanya, hmm… Setelah kejadian ini, ruangan dipastikan wajib terbuka. pintu dan jendela walau AC nyala dan sedang sepanas apa pun. Kalau pengap, ke belakang dulu, bernapas di bawah pohon kapas yang rindang,” pintanya pada suami.  [sta]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *